Pernahkah kamu melihat sebuah produk di rak toko dan langsung merasa yakin bahwa rasanya pasti enak hanya dari melihat kemasannya? Kemasan bukan sekadar bungkus; ia adalah komunikator pertama antara produk dan pembeli. Kali ini, saya akan membedah proses di balik layar re-desain label produk "duo mente". Kita akan melihat bagaimana desain berevolusi dari versi lama menjadi versi baru untuk membuktikan bahwa perubahan visual bisa memberikan dampak besar.
Di Balik Warna: Sebuah Storytelling Desain
Dalam Design Thinking, menceritakan sebuah masalah (storytelling) adalah cara terbaik untuk membangun empati. Mari kita telusuri perjalanan sang "Jagonya Mente Goreng" ini mencari jati dirinya.
Babak 1: Tersembunyi dalam Gelap
Awalnya, duo MENTE berbalut jubah hitam. Niat awalnya mungkin untuk tampil mencolok dan tegas. Namun, bagi seorang pembeli yang sedang mencari camilan santai, warna hitam pekat justru terasa kaku, misterius, dan "berat". Kesegaran dan kelezatan kacang mente yang gurih seolah tenggelam di balik bayang-bayang labelnya sendiri.
Babak 2: Mendengarkan Sang Mente
Kami mulai berempati dan bertanya: "Apa sebenarnya warna dari rasa gurih?" Jika seseorang membeli kacang mente, mereka mencari kehangatan, sesuatu yang natural, dan bersih. Kami menyadari bahwa produk ini tidak butuh warna kontras untuk berteriak; ia hanya butuh wadah yang memancarkan identitas aslinya agar pantas dijadikan buah tangan (hampers) yang elegan.
Babak 3: Lahirnya Rona Emas & Krem
Maka, lahirlah warna Krem dan Emas. Warna krem merepresentasikan rona alami kacang mente yang dipanggang sempurna—hangat dan mengundang selera. Sementara sentuhan emas pada teks mengangkat derajatnya. Bukan lagi sekadar "kacang toplesan biasa", melainkan sebuah camilan premium yang disiapkan dengan bangga.
Transformasi Visual: The Evolution
Lihat bagaimana perubahan elemen warna dan tipografi secara drastis mengubah persepsi produk dari kemasan lama ke kemasan baru:
🎯 Kesimpulan: Mengapa Menggunakan Storytelling?
Mungkin kamu bertanya, mengapa re-desain ini harus diceritakan dalam sebuah narasi? Dalam Design Thinking, Storytelling adalah jembatan empati.
Tanpa cerita, desain hanyalah sekumpulan piksel. Dengan bercerita, kita bisa memposisikan diri sebagai pelanggan yang sedang bingung di depan rak toko. Storytelling membantu kita memahami alasan emosional di balik sebuah pilihan warna dan bentuk. Metode ini memastikan bahwa setiap goresan desain memiliki "jiwa" dan tujuan yang jelas: yaitu menciptakan koneksi yang tulus antara produk dan penggunanya.
0 komentar:
Posting Komentar