Pernahkah kamu melihat sebuah produk di rak toko dan langsung merasa yakin bahwa rasanya pasti enak hanya dari melihat kemasannya? Kemasan bukan sekadar bungkus; ia adalah komunikator pertama antara produk dan pembeli. Kali ini, saya akan membedah proses di balik layar re-desain label produk "duo mente". Kita akan melihat bagaimana desain berevolusi dari versi lama menjadi versi baru, dan mengujinya langsung ke lapangan untuk membuktikan apakah perubahan desain ini benar-benar berhasil.
Kenapa Harus Re-Desain? (Tahap Empathize & Define)
Sebuah desain yang baik harus memikirkan aspek estetika dan fungsionalitas. Re-desain label "duo MENTE" ini dilakukan melalui beberapa tahap pemikiran kritis:
- Visibilitas: Label lama menggunakan latar belakang hitam gelap. Meskipun terlihat kontras, warna ini kadang membuat produk camilan terlihat kurang segar atau kurang "membumi".
- Kesesuaian Ruang: Kami membutuhkan desain yang tidak hanya bagus di layar, tetapi juga presisi saat dicetak dan ditempel pada toples melingkar dengan dimensi memanjang (292 mm x 84 mm).
- Kesan Premium: Kami ingin mempertahankan identitas merek dan tagline "JAGONYA MENTE GORENG", namun membungkusnya dengan nuansa warna krem dan emas agar terlihat lebih cerah, bersih, dan premium.
Evolusi Desain: Before vs After
Berikut adalah perbandingan wujud kemasan sebelum dan sesudah melalui proses perombakan visual (Tahap Ideate & Prototype):
Desain Sebelumnya
Dominasi latar hitam dengan teks kuning/emas.
Desain Diperbaharui
Tema warna terang (krem) dengan elemen emas yang elegan.
Menguji Teori: Apa Itu Assumption Testing?
Dalam Design Thinking, ada satu teknik evaluasi yang sangat penting bernama Assumption Testing (Pengujian Asumsi). Apa itu?
Assumption Testing adalah metode di mana kita mengidentifikasi "keyakinan" atau "asumsi dasar" yang kita miliki tentang desain atau produk kita, lalu secara aktif mencari data atau pendapat dari orang lain untuk membuktikan apakah asumsi kita itu Benar atau Salah sebelum produknya diproduksi massal.
Asumsi Desain Kami:
"Mengubah warna label dari hitam gelap menjadi warna terang (krem/emas) akan membuat kemasan 'duo MENTE' terlihat lebih premium, lebih menarik perhatian, dan meningkatkan selera makan pembeli."
Validasi Lapangan: Tanggapan Mereka (Tahap Test)
Untuk menguji asumsi di atas, kami memperlihatkan prototipe desain baru ini kepada tiga sudut pandang yang berbeda: Pemilik, Orang Tua (Ibu), dan Pelanggan.
Pemilik Produk (Owner)
"Desain yang baru jauh lebih elegan. Tagline 'JAGONYA MENTE GORENG' tetap terbaca dengan jelas, tapi sekarang produknya terlihat lebih pantas untuk dijadikan hampers atau oleh-oleh premium."
Ibuku (Sudut Pandang Ibu-ibu/Pembeli Rumah Tangga)
"Ibu lebih suka yang terang begini. Kelihatannya lebih bersih dan kacang metenya terkesan lebih higienis. Kalau bungkusnya hitam kadang suka takut produknya lama, kalau terang begini rasanya lebih fresh."
Pelanggan
"Warnanya bikin ngiler sih. Warnanya kayak menyatu sama warna kacang metenya itu sendiri. Bikin penasaran pengen nyicipin karena kelihatan mewah."
🎯 Kesimpulan
Melalui re-desain duo mente ini, kita bisa melihat bahwa intuisi desain (asumsi) harus selalu divalidasi. Menggunakan Assumption Testing menyadarkan kita bahwa estetika visual bukan sekadar soal selera desainer, melainkan soal bagaimana target pasar merespons karya tersebut.
Tanggapan positif dari pemilik, seorang Ibu, dan pelanggan membuktikan bahwa asumsi kami Tervalidasi (Benar). Transisi warna dari gelap ke terang berhasil mengangkat value produk menjadi lebih premium, higienis, dan menarik secara komersial. Desain yang baik adalah desain yang mendengarkan!
0 komentar:
Posting Komentar